Jakarta- Duka mendalam menyelimuti masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Kabupaten Sumba Timur. Salah satu tokoh senior daerah, Lukas Mbadi Kaborang, dikabarkan meninggal dunia di Kota Kupang. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi banyak pihak yang mengenal dedikasi dan perjalanan panjangnya di dunia pemerintahan.
Mantan Bupati Sumba Timur tersebut menghembuskan napas terakhir pada Senin, 20 April 2026, di Rumah Sakit Siloam Kupang. Kabar wafatnya dengan cepat menyebar dan memicu gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, pejabat daerah, hingga warga yang pernah merasakan kepemimpinannya.
Semasa hidupnya, Lukas Mbadi Kaborang dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan daerah. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Sumba Timur pada periode 1994–1999. Dalam masa kepemimpinannya, ia banyak mendorong pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, termasuk komoditas jambu mete yang saat itu dinilai mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.
Tak hanya berhenti sebagai kepala daerah, kiprah politiknya terus berlanjut. Ia tetap aktif dalam berbagai peran, termasuk sebagai anggota DPRD Sumba Timur dan pernah menduduki posisi Wakil Ketua DPRD. Pengalamannya menjadikannya figur yang cukup berpengaruh dalam dinamika politik daerah.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa almarhum, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mengeluarkan surat edaran resmi terkait pengibaran bendera setengah tiang. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa langkah ini merupakan tanda berkabung atas wafatnya Lukas Mbadi Kaborang.
Berdasarkan isi surat edaran yang terlihat pada halaman pertama dokumen, pemerintah meminta seluruh instansi, lembaga pendidikan, hingga pemerintah desa untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang selama dua hari, yakni pada 22 dan 23 April 2026. Pengibaran dilakukan mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WITA sebagai simbol penghormatan terakhir kepada almarhum.
Instruksi tersebut ditujukan kepada berbagai elemen, termasuk Forkopimda, perangkat daerah, BUMN/BUMD, camat, lurah, hingga kepala desa di seluruh wilayah Sumba Timur. Hal ini menunjukkan besarnya penghargaan pemerintah daerah terhadap kontribusi yang telah diberikan oleh Lukas selama masa hidupnya.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi terkait penyebab wafatnya almarhum. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi rasa kehilangan yang dirasakan masyarakat. Banyak yang mengenang Lukas sebagai pribadi yang dekat dengan rakyat serta memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan daerah.
Kepergian Lukas Mbadi Kaborang menjadi pengingat akan pentingnya pengabdian seorang pemimpin kepada masyarakat. Warisan kerja dan kontribusinya diyakini akan terus dikenang dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan Kabupaten Sumba Timur.